Senin, 10 Oktober 2016

-

Ingin segera bertemu denganmu

Memelukmu eraaaaatt sekali

Dan berkata

Maafin aku sayang :(

Jumat, 07 Oktober 2016

Sekolah usia dini

Copas status Harry Santosa

Memasukan Anak ke PAUD Perlukah?

Ada sebuah buku yang berjudul "better late than early" , buku ini memberikan pandangan banyak pakar dari berbagai macam sudut pandang dan menyimpulkan serta menganjurkan untuk menunda memasukkan anak ke sekolah bahkan sampai usia 8 -10 tahun.

Para psikolog pun seperti bu Elly Risman atau ust Adriano Aad Rusfi atau praktisi seperti bunda Septi Peni Wulandani pun sama, menganjurkan untuk menunda selama mungkin anak usia dini untuk di "sekolah" kan.

Dalam pandangan pendidikan berbasis fitrah pun sama, tidak berlaku kaidah bahwa makin cepat makin baik, makin banyak makin hebat. Segala sesuatu sebaiknya sesuai tahapannya.

Perlu dipahami bahwa pendidikan usia dini adalah agar anak anak usia dini tumbuh paripurna sesuai tahap perkembangan usia dininya. Jadi bukan calistung untuk persiapan masuk SD. Juga ketika mengajarkan sesuatu maka prinsipnya adalah bukan apakah anak mampu, tetapi apakah yang anak butuhkan sesuai usianya. 

Sebagai catatan banyak PAUD hari ini yang berubah menjadi SAUD  (Sekolah Anak Usia Dini), dengan melatih anak berbagai keterampilan membaca, menulis dan berhitung sebagai persiapan masuk SD.

Usia Dini adalah usia paling kritis dan rentan namun sangat menentukan masa depan anak, maka pastikan AyahBunda urun hati, urun fikiran, urun tangan dstnya.

Beberapa aspek fitrah yang membutuhkan kedua orangtua turun tangan

1. Fitrah Keimanan. Usia 0-6 tahun adalah masa emas untuk mendidik fitrah keimanan, dengan keteladanan dan atmosfkr keshalihah untuk memunculkan imaji2 positif ttg Allah dstnya. Anak anak harus dibangkitkan gairah cintanya pada Allah dan kedua orangtualah sosok teladan yang paling berkesan untuk memberikan imaji imaji positif ini. Jika fitrah imannya tumbuh paripurna, maka bunda akan menjumpai ananda menyambut perintah sholat dengan suka cita ketika usia 7 tahun. Jangan lewatkan peran ayah bunda pada tahap 0-6 tahun

2. Fitrah Seksualitas. Anak usia 0-6 tahun membutuhkan kelekatan ayah dan ibunya sampai aqilbaligh, bahkan dilarang memisahkan anak dan ibunya sampai mereka aqilbaligh. Usia 3 tahun, ananda harus menyebut identitas gendernya dengan jelas. Anak yg bingung identitas gendernya ada kemungkinan salah satu sosok ayah atau ibu tidak hadir secara utuh. Perhatikan bahwa banyak PAUD gurunya hanya perempuan.

3. Fitrah individualitas. Anak usia 0-6 tahun sangat ego sentris, jika tidak memahami ini maka mereka akan dipaksa berbagi,  dipaksa untuk mengalah tanpa pertimbangan fitrah individualitasnya. Maka kelak akan menjadi peragu, tidak pede bahkan pelit dan pengecut.  Dalam lingkungan persekolahan usa dini yang seragam, maka umumnya individualitas tak dihargai.

Sejalan dengan ini maka sesungguhnya anak usia 0-6 tahun belum membutuhkan bersosialisasi, tetapi membutuhkan interaksi dengan alam. Sementara sosialisasi terbaiknya pada usia ini adalah dengan kedua orangtuanya.

4.  Fitrah Belajar. Pada usia ini abstraksi dan imaji anak sedang indah-ndahnya maka interaksi terbaiknya di alam dan permainan imajinatif. Kebanyakan PAUD mengenalkan permainan kognitif dan lebih banyak bermain dalam ruangan. Gairah belajar anak lebih wajib diumbuhkan daripada mengejar kemampun calistung. Ingat bahwa anak yang cepat bisa membaca belum tentu menyukai buku dan belajar, sementara anak yang cepat bisa berhitung belum tentu suka bernalar dan berabstraksi.
Tugas orangtua adalah membangkitkan gairah belajar anak bukan banyak mengajarkan. Ingat bahwa anak yang terlalu banyak diajarkan akan  minta diajarkan sepanjang hidupnya.

5. Fitrah Bakat. Pada usia ini, bakat anak muncul sebagai sifat unik, maka amati sebaiknya dan buatlah dokumentasi anak yang menggambarkan momen bahagia, momen kejutan atas sifat dan perilaku yang unik. Ini memerlukan observasi atau pengamatan yamg seksama, penuh empati dan telaten, dan sejujurnya hanya kedua orangtua yang ikhlash yang mampu melakukan.

6. Fitrah Estetika dan Bahasa. Pada usia ini anak harus dikuatkan bahasanya dengan bahasa ibu (mother tongue). Bahasa ibu adalah bahasa native atau bahasa penutur asli yang dituturkan ayah dan ibu di rumah dengan fasih dan santun. Hindari mengajarkan bahasa asing sebelum bahasa ibu sempurna. Ukurannya adalah mampu mengekpresikan perasaan, sikap dan gagasannya dengan jelas dan baik. Kisahkan anak dengan kisah kisah berkesan menggunakan bahasa ibu. Agak sulit menguatkan bahasa ibu jika PAUD menggunakan bahasa yang lain apalagi bilingual. Kasus kasus anak mengalami bingung bahasa atau mental block karena tak mampu mengekspresikan bahasa sudah banyak terjadi.

Jika ayah bunda karena alasan yang darurat harus memPAUD kan anak, maka pastikan

1. PAUD yang dipilih adalah yang mengoptimalkan peran orangtua dalam proses
2. AyahBunda tetap bertanggungjawab pada penumbuhan seluruh potensi fitrah, maka buatlah personalized curriculum (PC). Komunikasikan dan kerjasamakan PC dengan PAuD yang dipilih.
3. Manfaatkan waktu ketika bersama anak dengan sebaik baiknya

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Rabu, 05 Oktober 2016

Main sama tetangga

Copas dari grup facebook Parenting with Elly Risman

Semua rumah punya peraturannya masing-masing. Semua ibu punya caranya masing-masing dalam mengasuh, melindungi dan memelihara anaknya. Salah satu cara saya adalah tidak mengizinkan anak-anak saya bermain dengan anak-anak tetangga yang sebaya. Jangan salah paham, mereka HARUS kenal tetangga mereka dengan baik, menyapa, mampir jika perlu, dan lebih dari sekedar tahu.

Kakek ujung gang (7 rumah dari rumah kami) bertato di seluruh lengannya. Tapi dia yang sangat bertanggung jawab dengan gang kami, dia yang rajin menutup dan membuka portal setiap subuh dan malam hari, men-cat dinding-dinding yang rusak, membersihkan rumput-rumput ilalang yang tumbuh secara liar. Sebelahnya adalah rumah Michael, mama Michael menikah dengan dosennya dan kini tinggal dengan mertuanya yang tidak begitu dia sukai. Michael sekarang lagi mogok sekolah karena disekolahkan terlalu dini oleh ibunya. Sebelahnya lagi rumah Hanny, anak gadis kecil yang setiap hari di tinggal mamanya bekerja dan di jaga oleh pembantu dan Papa Hanny. Di usianya yang baru 1.5th itu, Hanny sudah punya adik! Sebelah rumah Hanny adalah rumah Mischka, yang orangtuanya masih tinggal dengan kakeknya. Kakeknya yang setiap hari mengantarkan Mischka ke sekolah di salah satu TK islam dalam kompleks. Sebelah rumah Mischka adalah rumah bapak-bapak yang buka counter aksesories mobil di trade center setempat. Sebelah rumah bapak itu adalah rumah pasangan tua yang tidak punya anak. Untuk meramaikan rumah mereka, mereka mengizinkan asisten rumah tangganya untuk membawa anaknya. Sebelah rumah nenek-kakek itu, rumah kami!

Seberang rumah Mischka, adalah rumah pasangan yang suaminya tidak bekerja, tapi istrinya bekerja sebagai perawat di panti werda tidak jauh dari kompleks kami. Sebelah rumah itu adalah rumah pasangan muslim yang punya 2 anak laki-laki. Yang pertama usianya 1-2th di atas raia dan adiknya 1-2th di atas kaizan. Mereka sekolah di sekolah muhammadiyah kecamatan lain. Sebelah rumah mereka, yaitu depan rumah kami, adalah gereja supeeeerrrrrrr gede. Gereja tersebut mempekerjakan 2 satpam untuk 2 shift yang berbeda. 1 adalah pak Abam yang asli Indonesia Timur dan Pak Hamid yang muslim. Pak Abam mengalami stroke setahun lalu dan berhasil menurunkan berat badannya berpuluh kilo. Istrinya membuka warung kopi di rumahnya di sebelah sananya gereja. Selang 5 rumah dari rumah Pak Abam adalah rumah pak Wanto, ketua RT yang baik hati. Dia punya anak SMA yang di SMA nya pas mau idul adha kemarin di tagih uang qurban 100rb/anak. Pak Hamid sudah bekerja di gereja lebih lama dari pak Abam. Kami bukan saja tahu bahwa dia gak suka daging kambing, tapi kami juga tahu bahwa ketika cek kesehatan setelah hari raya lalu, tensi darahnya rendah. Tidak perlu saya lanjutkan kan ya?

Saya mohon maaf semua jadi harus membaca tentang profil tetangga-tetangga saya dan kapan-kapan kalau berkesempatan bertemu anak-anak saya, silahkan cek sendiri pengetahuan mereka tentang orang-orang yang saya sebutkan diatas. Saya hanya ingin memaparkan bahwa orang yang tidak ‘nenangga’ dan yang anak-anaknya tidak bermain bersama anak tetangga, bukan berarti mereka tidak mengenal tetangga mereka. Untuk orang yang tidak ‘nenangga’, menurut saya ‘ilmu’ yang saya ketahui tentang tetangga-tetangga saya cukup memadai, cukup untuk berbasa-basi ketika kami bertemu, ngobrol sejenak dan bertegur sapa ketika kami harus mampir atau berpapasan ketika jalan pagi dan sore hari. Jika kelak anak-anak saya berumah sendiri, dan mereka mengenal tetangga-tetangga mereka seperti saya, menurut saya itu sudah lebih dari cukup.

Lalu kenapa saya nggak kasih mereka bermain dengan anak-anak sebaya nya di sekitar rumah? Karena kembali ke kalimat saya pertama saya diatas, bahwa masing-masing rumah punya cara pengasuhan yang berbeda dan saya tidak mau anak-anak terpengaruh dengan  cara pengasuhan orang lain yang belum tentu cocok dengan mereka. Anak-anak saya belum berada di usia di mana mereka sudah bisa memfilter yang mana yang baik dan yang buruk, mana yang boleh diikuti yang mana yang tidak, dan mereka juga belum bisa melindungi diri mereka dari pengaruh buruk secara verbal maupun fisik, dan saya tidak bisa, tidak mau dan tidak sanggup untuk terus menerus menemani, melindungi dan mencuci kembali otak mereka kalau memang terkontaminasi. Pun saya temani, memangnya keberadaan saya bisa mencegah anak orang lain berkata kasar dan jorok? Belum tentu kan? Kalau sudah kadung dikatakan oleh temannya dan sudah kadung di dengar, bagaimana saya membalikkan waktu agar mereka gak dengar? Kalau itu adalah kata yang bisa saya jelaskan, okelah, kalau nggak?

Dulu di grup-grup wa saya, ibu-ibu yang bertanya pertanyaan seputar hal ini saya berikan analogi tango. Iya, tango si wafer terkenal itu. tango yang terbuka bungkusnya, walaupun di taro di etalase toko mewah pun, tidak akan kita ambil, beli apalagi makan, karena bungkusnya yang terbuka memberikan peluang isinya untuk bisa terkontaminasi entah apa yang masuk. Bisa semut, cicak, kecoa atau minimal bakteri dan virus. Dan semua ibu-ibu di grup saya sepakat mereka akan memilih tango yang tertutup rapat yang ada di got karena walaupun jorok dan kotor, tapi kita semua tau karena bungkus ter-seal dengan baik dan anti air, kuman dan kotoran di LUAR bungkus tidak bisa masuk ke dalam. Jadi tinggal cuci bersih luarnya, isinya bisa di makan seperti biasa.

Anak-anak saya layaknya tango yang belum tertutup rapat. Jika dilempar keluar rumah akan terkontaminasi dengan ‘kuman dan kotoran’ yang kemungkinan ada dan bertabur di l;uar sana. Dan seperti wafernya, kalau sudah kena kuman, bagaimana membersihkannya? Saya memilih untuk memastikan tango saya terbungkus rapi dulu, karena kalau sudah lewat proses ‘quality control’, mau terlempar ke got pun, isinya tidak terkontaminasi.

Jadi harus di kekep di rumah? Dimana-mana, proses pembungkusan ya di pabrik yang tertutup laaah. Dengan pekerja yang pake sarung tangan, masker muka, tutup kepala, mesin yang canggih dan mahal, dan yang mau ‘wisata ke pabrik’ harus by appointment, mengikuti rules pabrik yang ada, ga bisa sembarang masuk saja. Ada dress code dan limited access di sana. Dan tidak setiap proses bisa di lihat oleh semua.

Lalu bagaimana dengan sekolah? Kalau sekolah kan harus. Plus, karena mereka sekolah diatas usia 5.5th, jadi justru jadi ladang quality control saya untuk melihat bagian bungkusan mana yang masih bolong dan perlu di tambal. Membersihkan kontaminasi dari sekolah aja setengah mati, masa mau di tambah dengan imbas dari tetangga. Lagipula, bertetangga tidak perlu dengan bermain bersama kok. Buktinya tidak main bareng pun kami cukup mengenal tetangga kami dengan baik.

Saya pribadi menikmati proses pembungkusan ini, Alhamdulillah selama ini, teman-teman yang sudah bertemu dengan tango-tango saya tidak ada yang men-cap mereka tidak bisa bersosialisasi, dan anak-anak saya juga tidak mengeluh dan minta main bersama teman sebaya di seputaran tetangga karena mereka tahu kenapanya. Di luar sana, air got nya sudah berupa setan berbentuk manusia. Kalau anda tidak setuju, tidak apa. Mungkin pabrik kita berbeda, mungkin wafer nya beda rasa, dengan level quality control yang juga tidak sama. Mungkin anak anda sudah bisa membedakan yang mana yang boleh di tiru dan yang mana yang hanya di lihat saja. Mungkin juga anda punya rinso pembersih otak anak yang saya tidak punya. Cuma, karena anak anda adalah anak saya juga, saya berharap semoga sebelum anda melempar anak anda keluar rumah, minimal pastikan bungkusan wafer nya tertutup rapat pula.

#sarrarisman
**jika di rasa manfaat, silahkan membagikan artikel ini
***jgn khawatir, semua nama di artikel ini sudah di rubah untuk perlindungan identitas mereka.

Senin, 29 Agustus 2016

Satu bulan menjadi ibu

Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan amanah ini. Sudah sebulan jadi mama, rasanya nano nano, ada perasaan bahagia dan waswas. Bahagia karna ga semua orang bisa diberi kesempatan seperti ini, alhamdulillah dianugrahkan putri cantik seperti Azka, putri yang super baik karna ga pernah rewel kecuali satu hari dihari keempatnya di dunia. Sedikit cerita, waktu itu mungkin asi saya kurang memenuhi kebutuhannya, jadi sehari semalem dia ngempeng, nonstop! Kalau dilepas dia nangis sampe teriak-teriak, liatnya sedihhhh banget, pas dikilo ternyata berat badannya udah turun 300 gram. Saya dikasihtau kaka jamu pelancar asi, langsung deh saya minum itu jamu (merknya mama bear) , langsung makan pepaya muda, minum yang banyak, makan suplemen moloco (beli di apotek), makan yang banyak juga, alhamdulillah besoknya asi mengucur deras sampe bengkak-bengkak dan meriang haha. Tapi gapapa, rasanya seneng bisa memenuhi kebutuhan mimiknya Azka sampai sekarang kerjaannya cuma mimik dan bobok, di hari ke 28nya kemarin, dia udah naik 800 gram jadi 4kilo! Rasanya senanggg sekali, pipinya chubby banget jadi gemes pengen digigitin terus. Hihi. Sehat-sehat selalu ya nak.. :*
Di sisi lain, saya juga merasa waswas, ada perasaan takut mendidik anak di zaman sekarang, apalagi kalau nonton berita ko ya rasanya ngeri-ngeri, apakah saya dan suami bisa mendidik Azka jadi anak shalehah? Hmm.. Insyaallah kami akan usahakan yang terbaik, semoga kelak dia bisa menolong kami meraih syurga, semoga kami selalu bisa menjadi orangtua yang setiap harinya berusaha menjadi lebih baik. Kalau ingin anak shaleh bukankah orangtuanya harus berusaha menjadi orangtua yg shaleh juga?

Rabu, 10 Agustus 2016

Cerita melahirkan anak pertama lewat dari HPL

Bismillahirrohmanirrohim... 
Saya ingin cerita pengalaman tentang lahiran anak pertama kemarin, sebelum lupa lagi, lumayan kan buat kenang-kenangan nanti kalau anaknya udah gede.
HPL (hari perkiraan lahir) anak pertama saya tanggal 22 Juli 2016 (40 minggu), tapi sampai tanggal segitu belum kerasa tanda apa-apa meskipun tiap kontrol selalu dibilang kepala bayi udah di bawah banget, tetep ga ada kontraksi asli sama sekali, cuma sering kontraksi palsu. Googling ternyata kelahiran bayi bisa ditunggu sampai 42 minggu usia kandungan asal kandungan tetap dipantau kondisinya.

40w1d, 23 Juli 2016 hari sabtu, saya ngarep biar dede lahir di hari ini, biar samaan sama bapaknya hehehe. Tapi ternyata ga ada kontraksi juga. Saya ke bidan, bidan masih bilang blm ada pembukaan, katup serviksnya masih kuncup tp kepala bayi udah di bawah banget. Lalu saya diminta buat usg buat cek kesejahteraan janin hari senin nanti.

40w3d, 25 Juli 2016 hari senin, saya berangkat ke dokter Ali Rustaman di klinik harapan keluarga cipacing buat USG, dicek dalem sama dokter belum ada bukaan juga. Dokter bilang ketuban saya masih cukup, tapi plasentanya udah ada sedikit pengapuran. Lalu dokter ngasih waktu saya 3 hari, kalau dalam 3 hari (mulai senin)  ga lahir, saya harus ke rumah sakit buat diinduksi. Saya dikasih resep 3 obat, salah satunya obat perangsang biar kontraksi. Malamnya sekitar jam 20.30 saya minum obatnya, langsung kaya ada rasa mules gitu dikit, lalu kontraksi makin kuat, semaleman ga bisa tidur, kontraksi udah 5 menit sekali.

40w4d, 26 Juli 2016 hari selasa, pagi-pagi saya coba jalan-jalan di samping rumah sambil nahan kontraksi, sempet ilang kontraksinya dan saya bisa tidur kira-kira setengah jam. Jam 10 saya ke bidan Rehni di Cipacing, kontraksi masih tetep 5 menit sekali, rasanya maknyus, pas di bidan diperiksa belum ada bukaan, tapi udah ada celah, lalu di stripping (rasanya luarrrrrrr biasaaaa, sakit broo), akhirnya pembukaan 1, alhamdulillah (meskipun dalam hati ada rasa gendok juga kontraksi udah 5 menit sekali tapi baru pembukaan 1 wkwkwk). Pulang deh saya. Malamnya saya minum lagi obat perangsang dari dokter, kontraksi makin menjadi-jadi, udah 3 menit sekali. Semaleman saya ga bisa tidur lagi (jadi ga tidur 2 hari 2 malam). Semaleman diusap-usap punggung sama mamah (maklum ldr sama suami haha). Tapi tetep aja rasanya tuh maknyus banget.

40w5d, 27 Juli 2016 hari Rabu, kontraksinya makin menjadi-jadi, 3 menit sekali udah, dari hari sebelumnya saya ga makan malem, karna udah rasa ga nafsu lagi, badan lemes, udara rancaekek dingin, lapar, jam 03.30 saya udah ngeluh-ngeluh ke mamah ga kuat, badan saya menggigil banget sambil masih nahan kontraksi. Saya udah ngerasa lemah banget. Mamah cuma bisa bilang sabar sambil usap-usap punggung. Terus saya whatsapp bu bidan, saya bilang saya menggigil, bidan bilang cepet ke klinik, saya langsung pergi ke klinik jam 04.00 naik motor dibonceng bapak saya. Dingin banget, makin menggigil. Sampe klinik bidan cek pembukaan, bukaan 2 ternyata, yaampun bukaan 2 aja rasanya kaya gini, masih harus nunggu sampe bukaan 10. Pas di cek bukaan itu ketuban saya pecah. Saya teriak-teriak nahan kontraksi. Jam 06.00 mertua datang, selama kontraksi itu tangan mertua saya, saya remes-remes, mamah saya bagian usap-usap punggung tiap kontraksinya kerasa wkwk. Diperiksa lagi jam 09.00, bukaan 4, lalu di stripping lagi sampe bukaan 7, rasanya senenggg, mending stripping aja sampe 10 bu bidann... Wkwkwk. Malah ketagihan. Kontraksi makin menjadi-jadi (sulit digambarkan rasanya). Jam 11.30 akhirnya bukaan lengkap. Saya siap-siap ngeden. Caranya gigi atas sama bawah di rapatkan, mata dibuka lihat ke perut, ngeden kaya mau BAB. Akhirnya jam 11.53 si dede brojolll, beratnya 3,2 kilo, panjangnya 51 cm, rasa sakit yg selama ini kerasa langsung ilang semua, saya senyum-senyum, wah ternyata saya udah jadi ibu.

Akhirnya perjuangan saya mengandung sang anak selama 9 bulan terbayar, liat wajah mungilnya bikin saya bersyukur saya bisa melewati ini semua, ga semua orang dikasih anugrah kaya gini.

Selama proses persalinan ini saya ga didampingi suami, suami saya kerja di banjarmasin, hari itu harusnya sih bisa dia liat saya lahiran, tapiiiii, pesawat delay jadi aja dia dateng jam 14.00an, sejam setelah saya ngeluarin si dede.

Inilah putri kecil kami, Azka. 

Minggu, 13 Desember 2015

kedai momo banjarbaru

ceritanya kan lagi ngidam.. biasa, kalau orang hamil kan suka ada-ada aja, disangka ngidam padahal mah emang doyan haha :p

kemaren-kemaren pengen banget makan ramen di kedai lingling, di bandung, tapi ga mungkin kesampean dalam waktu dekat, jauh banget ke bandung (terus modalnya juga gede boooo) haha. jadi yasudahlah, keinginannya dipendam aja, bikin indomie aja, tapi kata suami ga boleh makan mie huhuhuhu... lalu sore tadi iseng-iseng buka instagram lalu search hastag #kulinerbanjarbaru, ehhh terbukalah gambar yang penampakannya mirip-mirip sama kedai lingling, kirain bukan di banjarbaru, tapi ternyata itu di murjani sodara-sodara, deket banget dari rumah, lalu ngajak suami buat ngeramen disana, habis magrib kita langsung meluncurrr... tempatnya di taman minggu raya murjani, kalau dari arah lapangan bola, itu d sebelah kiri, ada lampion-lampionnya gitu.. saya pesen hot n spicy ramen minumannya thai tea, suami saya pesen katsu ramen minumannya teh tarik, menurut saya sih enakan ramen saya daripada ramennya suami, kuahnya pedes dan bercita rasa meskipun ga pake garem dan ga pake msg (katanya), teh tariknya enak, thai tea nya enaaakkkk! suka banget.. suami saya pun suka banget sama thai tea nya hihi.. terus setelah mengabiskan seporsi ramen lanjut beli takoyaki haha bumil ga ada kenyang-kenyangnya, tadinya mau pesen yang octopus tapi habis, jadi pesen yang cheese, daaaannn enak juga!!!! mau mau lagi..... enakkk.... kami ngeluarin uang 84ribu buat semuaa itu, alhamdulillah kenyang, tapi masih pengen lagi hihihi... harga ramennya mulai 20rb, minumannya mulai 3rb, thai tea nya 12rb kalau teh tarik 10rb,trus okonomiyakinya 17rb.. insyaallah nanti pengen kesana lagi :)

kalau mau kepoin ig nya : @kedaimomobanjarbaru

ini lokasinya


yang kefoto cuma hot n spicy ramen

Sabtu, 12 Desember 2015

martabak jumbo

semalem.. tiba-tiba terbayang martabak telur, eh sebenernya dari kemarin udah terbayang-bayang martabak telur deng hihihi. lalu nanya ke temen, dimana ada martabak telur yang enak, terus katanya di sebrang SDN 1 Komet, depan pengadilan agama, langsung deh menembus hujan yang semenjak magrib sudah mengguyur kota banjarbaru, dan tentu saja ditemani suami :*
pas ke sana ada 4 jenis martabak telur, saya langsung memesan martabak telur yang JUMBO!! haha. saking pengennya martabak telur yang tebal, harganya 45.000, dan emang bener-bener jumbo, acarnya pun banyak banget, sama sama ukuran jumbo hihihi.
alhamdulillah martabaknya emang beneran enak, pas bumbunya, apalagi makan disaat cuaca lagi dingin, uuuu sedaapp!